Review Film The Smurf

Country:

 USA

Language:

 English

Release Date:

  (Indonesia) 

Also Known As:

 Los pitufos 

Filming Locations:

 Kaufman Astoria Studios - 3412 36th Street, Astoria, Queens, New York City, New York, USA







Review :


Ibarat cerita dongeng, ada seorang karakter yang zero jadi hero. Ide cerita yang sering digunakan dalam film keluarga. Sebenarnya, pertama kali mendengar bahwa bakal ada film Smurf, dalam benak gua oh ini pasti film animasi murni, layaknya film Tintin. Tapi ternyata agak sedikit kecewa karena film ini tidak demikian. Seandainya tidak digabung dengan karakter manusia mungkin lebih asik untuk dinikmati karena kita seakan-akan dibawa ke dimensi lain, layaknya Avatar (padahal sudah sama-sama biru kan karakternya, kayaknya Smurf setelah sekian lama melewatiwaktu puluhan tahun berevolusi menjadi Na’vi). Walaupun sebenarnya Neil Patrick Harris bermain tidak jelek. Ketika menonton film ini, gua sedikit memutar otak memikirkan siapa yang memainkan si penyihir. Well, akhirnya tertebak setelah hampir 30 menit berpikir. Hank Azaria. Cerita yang cenderung bukan anak-anak tapi ditujukan untuk anak-anak, bahkan tidak ada karakter anak-anak sama sekali, jelas bingung apakah film ini ditujukan untuk anak-anak atau untuk anak-anak penggemar komik Smurf yang kini sudah bukan anak-anak lagi. Mengerti tidak, anak-anak? Jika hanya sekedar mewujudkan mimpi masa kecil dimana karakter-karakter smurf menjelma di layar lebar, film ini bisa cukup mewakili, tapi jika ingin mencari tontonan utuh, menurut gua, gua tidak terlalu terkesan. Sekedar menghibur pun tidak termasuk memuaskan. Endingnya pun seperti layaknya film keluarga biasa (gua sih tidak mengkategorikan ini film keluarga). Gua kategorikan film ‘nanggung’. Ide cerita yang sebenarnya tentang orang dewasa yang lupa untuk merasakan kebahagiaan dari hati yang tulus karena tekanan pekerjaan. Bahkan demi pekerjaan rela membuat idealisnya sendiri yang berasal dari hati yang paling dalam. Sayangnya tidak dikedepankan sehingga tidak menjadi kerangka cerita yang punya pondasi yang kuat meskipun mungkin film ini ingin mengingatkan bagaimana dulu waktu masa kanak-kanak, begitu ceria membaca cerita komik smurf, tertawa dan merasa bahagia tanpa ada beban, kini pun meski sudah menjadi manusia dewasa tetap bisa merasakan kebahagiaan polos yang dirasakan saat kita masih kanak-kanak. Tujuan film untuk mengingatkan kita kembali pada keceriaan masa kecil. Hanya sayang, menurut gua tujuannya tidak sampai ke penonton. Sekedar info, Smurf ini diciptakan oleh Peyo dari Belgia pada tahun 1958. Pertama kali, mereka muncul dalam komik Johan and Pirlouit sebelum akhirnya menjadi komik sendiri setelah itu. Ada 29 komik yang terbit, 16 diantaranya dibuat oleh Peyo. Film ini berbujet 110 juta dolar namun sudah menghasilkan 557 juta dolar di seluruh dunia. Film yang bisa ditonton dalam versi 2D dan 3D ini rencananya akan dibuat sekuelnya yang akan rilis 2013.
Source :http://www.exodiac.com/film/review-EMR0001113.htm

0 komentar:

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2013 Mamka blog - 'Personal' blog | Mkanam - Didukung oleh Blogger